BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Kata filsafat berasal dari kata Yunani filosofia, yang berasal dari kata kerja filosofien yang berarti mencintai
kebijaksanaan. Kata tersebut juga
berasal dari kata Yunani philosophis yang
berasal dari kata kerja philein yang
berarti mencintai, atau philia yang
berarti cinta, dan shopia yang
berarti kearifan. Dari kata tersebut lahirlah kata inggris philosophy yag biasanya diterjemahkan sebagai “cinta kearifan”.
Arti kata tersebut belum memperhatikan makna yang sebenarnya dari kata
filsafat, sebab pengertian “mencintai” belum memperhatiakan keaktifan seorang
filosof untuk memperoleh kearifan atau kebijaksanaan itu. Menurut pengertian
yang lazim berlaku di timur (Tiongkok atau India), Seseorang disebut filosof
bila dia telah mendapatkan atau telah meraih kebijaksanaan. Sedangkan menurut
pengertian yang lazim berlaku di barat, kata “mencintai” tidak perlu meraih
kebijaksanaan, karena itu yang disebut filosof atau “orang bijaksana mempunyai
pengertian yang berbeda dengan pengertian di timur.
Filsafat
Yunani mengalami kemegahan dan kejayaan dengan hasil yang sangat gemilang yaitu
melahirkan peradaban yunani. Menurut pandangan sejarah filsafat dikemukakan
bahwa peradaban yunani merupakan titik tolak peradaban manusia di dunia. Maka
pandangan sejarah filsafat dikemukakan manusia di dunia. Giliran selanjutnya
adalah warisan peradaban yunani jatuh ke tangan kekuasaan Romawi. Kekuasaan
romawi memperlhatkan kebesaran dan kekuasaannya hingga daratan Eropa
(Britania), tidak ketinggalan pula pemikiran filsafat yunani juga ikut terbawa.
Hal ini berkat peran kaesar Augustus yang mencipatakan masa keemasan
kesusastraan Latin, kesenian, dan arsitektur Romawi.
B.
Rumusan Masalah
1. Jelaskan
tentang lahirnya filsafat abad pertengahan!
2. Apa
yang dimaksud dengan masa Patristik?
3. Apa
yang dimaksud dengan masa skolastik?
4. Jelaskan
mengenai masa Peralihan!
C.
Tujuan
1.
Agar pembaca
dapat mengetahui sejarah lahirnya filsafat pada abad pertengahan
2.
Agar pembaca
dapat mengetahui tokoh-tokoh filsafat pada abad pertengahan
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Sejarah
Munculnya Filsafat Abad Pertengahan
Filsafat Barat abad Pertengahan (476-1492)
juga dapat dikatakan sebagai “Abad Gelap”. Pendapat ini didasarkan pada
pendekatan sejarah gereja. Memang pada saat itu tindakan gereja sangat
membelenggu kehidupan manusia sehingga manusia tidak lagi memiliki kebebasan
untuk mengembagkan potensi yang terdapat dalam dirinya. Para ahli pikir pada
saat itupun tidak memiliki kebebasan berpikir. Apabila terdapat
pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan ajaran gereja, orang yang
mengemukakannya akan mendapatkan hukuman berat. Pihak gereja melarang
diadakannya penyelidikan-penyelidikan berdasarkan rasio terhadap agama. Karena
itu, kajian terhadap agama atau theologi yang tidak berdasarkan ketentuan
gereja akan mendapatkan larangan yang ketat. Yang berhak mengadakan
penyelidikan terhadap agama adalah pihak gereja. Walaupun demikian, Ada juga
yang melanggar larangan tersebut dan mereka dianggap orang murtad dan kemudian
diadakan pengejaran (Inkuisisi). Pengejaran terhadap orang-orang murtad ini
mencapai puncaknya pada saat Paus Innocentius III di akhir abad XII, dan paling
berhasil dalam pengejaran orang-orang murtad ini di Spanyol.
Ciri-ciri pemikiran filsafat Barat abad
pertengahan adalah :
a. Cara
berfilsafatnya dipimpin oleh gereja
b. Berfilsafat
di dalam lingkungan ajaran aristoteles
c. Berfilsafat
dengan pertolongan Augustinus dan lain-lain
Masa abad pertengahan juga dapat dikatakan
sebagai suatu masa yang penuh dengan upaya menggiring manusia ke dalam
kehidupan atau system kepercayaan yang picik dan fanatik, dengan menerima
ajaran gereja secara membabi buta. Karena itu perkembangan ilmu pengetahuan
terhambat.
Masa ini penuh dengan dominasi gereja,
yang tujuannya untuk membimbing umat kearah hidup yang shaleh. Namun, disisi
lain dominasi gereja ini tanpa memikirkan martabat dan kebebasan manusia yang
mempunyai perasaan, pikiran, keinginan, dan cita-cita untuk menentukan masa
depannya sendiri.
Masa abad pertengahan ini terbagi menjadi
dua masa yaitu :
A.
Masa
Patristik
Istilah
patristik berasal dari kata latin pater atau
bapak, yang artinya para pemimpin gereja. Para pemimpin gereja ini dipilih dari
golongan atas atau golongan ahli pikir. Dari golongan ahli pikir inilah
menimbulkan sikap yang beragam pemikirannya. Mereka ada yang menolak filsafat
yunani dan ada yang menerimanya.
Bagi mereka yang
menolak, alasannya karena beranggapa bahwa sudah mempunyai sumber kebenaran
yaitu firman Tuhan, dan tidak dibenarkan apabila mencari sumber kebenaran yang
lain seperti filsafat yunani. Bagi mereka yang menerima sebagai alasannya
berangapan bahwa walaupun telah ada sumber kebenaran yaitu firman Tuhan, tetapi
tidak ada jeleknya menggunakan filsafat yunani hanya diambil metodenya saja
(tata cara berpikir). Juga, walaupun filsafat yunani sebagai kebenaran manusia,
tetapi manusia sebagai ciptaan Tuhan. Jadi, memakai atau menerima filsafat
yunani diperbolehkan selama dalam hal-hal tertentu tidak bertentangan dengan
agama.
Perbadaan pendapat
tersebut berkelanjutan, sehimgga orang- orang yang menerima filsafat Yunani
menuduh bahwa mereka (Orang-orang Kristen yang menolak filsafat Yunani) itu
munafik. Kemudian, orang-orang yang dituduh munafik tersebut menyangkal, bahwa
tuduhan tersebut dianggap fitnah. Dan pembelajaran dari orang-orang yang
menolak filsafat Yunani mengatakan bahwa dirinyalah yang benar-benar hidup
sejalan dengan Tuhan.
Akibatnya,
muncul upaya untuk membela agama Kristen, yaitu para apologis (Pembela Iman
Kristen) dengan kesadarannya membela iman Kristen dari serangan filsafat
Yunani. Para pembela iman Kristen tersebut adalah Justinus Martir, Irenaeus,
Klemens, Origenes, Gregorius Nissa, Tertullianus, Diosios Arepagos, Au-relius
Augustinus.
1. Justinus Martir
Nama
aslinya Justinus, Kemudian nama Martir diambil dari istilah “Orang-orang yang
rela mati hanya untuk kepercayaan”. Menurut pendapatnya, agama Kristen bukan
agama baru kerena Kristen lebih tua dari filsafat Yunani, dan Nabi Musa
dianggap sebagai awal kedatangan Kristen. Padahal, Musa hidup sebelum Socrates
dan Plato. Socrates dan Plato sendiri sebenarnya telah menurunkan hikmahnya
dengan memakai hikmah Musa. Selanjutnya dikatakan filsafat yunani itu mengambil
dari kitab yahudi. Pandangan didasarkan bahwa Kristus adalah Logos. Dalam
mengembangkan aspek Logosnya ini orang-orang yunani (Socrates, Plato dan lain-lain)
kurang memahami apa yang terkandung dan memancar dari logosnya, yaitu
pencerahan sehingga orang-orang yunani dapat dikatakan menyimpang dari ajaran
murni. Mengapa mereka menyimpang ? Karena orang-orang yunani terpengaruh oleh
demon atau setan. Demon atau setan tersebut dapat mengubah pengetahuan yang
benar kemudian dipalsukan. Jadi, agama Kristen lebih bermutu disbanding dengan
filsafat yunani. Demikian pembelaan Justinus Martir.
2. Klemens
(150-215)
Ia
juga termasuk pembela Kristen, tetapi ia tidak membenci filsafat yunani.
Pokok-pokok pikirannya adalah sebagai berikut :
a.
Memberi
batasan-batasan terhadap ajaran Kristen untuk mempertahankan diri dari otoritas
filsafat yunani;
b.
Memerangi ajaran
yang anti terhadap Kristen dengan menggunakan filsafat yunani;
c.
Bagi orang
Kristen, filsafat dapat digunakan untuk membela iman Kristen, dan memikirkan
secara mendalam.
3. Tertullianus
(160-222)
Ia
dilahirkan bukan dari keluarga Kristen, tetapi setelah melaksanakan pertaubatan
ia menjadi gigih membela Kristen secara fanatik. Ia menolak kehadiran filsafat
yunani karena filsafat dianggap sesuatu yang tidak perlu. Baginya berpendapat,
bahwa wahyu tuhan sudahlah cukup. Tidak ada hubungan antara teologi dengan
filsafat, tidak ada hubungan antara Yerussalem (pusat agama) dengan yunani
(pusat filsafat), tidak ada hubungan antara gereja dengan akademi, tidak ada
hubungan antara Kristen dengan penemuan baru.
Selanjutnya ia mengatakan bahwa dibanding
dengan cahaya Kristen, segala yang dikatakan oleh para filosof yunani dianggap
tidak penting. Apa yang dkatakan oleh para filosof yunani tentang kebenaran
pada hakikatnya sebagai kutipan dari kitab suci. Akan tetapi karena kebodohan
para filosof, kebeneran kitab suci tersebut dipalsukan.
Akan
tetapi lama-kelamaan, Tertulianus akhirnya menerima juga filsafat yunani
sebagai cara berfikir yang rasional. Alasannya, bagaimanapun juga berpikir yang
rasional diperlukan sekali. Pada saat itu, karena pemikiran filsafat yang
diharapkan tidak dibakukan, saat itu fisafat hanya mengajarkan pemikiran-pemikiran
ahli pikir yunani saja, sehingga akhirnya Tertullianus melihat filsafat hanya
dimensi praktisnya saja, dan ia menerima filsafat sebagai cara atau metode
berpikir untuk memikirkan kebenaran keberadaan tuhan beserta sifat-sifatnya.
4. Augustinus
(354-430)
Sejak mudanya ia telah mempelajari
bermacam-macam aliran filsafat, antara lain Platonisme dan Skeptisisme. Ia
telah diakui keberhasilannya dalam membentuk filsafat Kristen yang berpengaruh
besar dalam filsafat abad pertengahan sehingga ia dijuluki sebagai guru
skolastik yang sejati. Ia seorang tokoh besar dibidang teologi dan filsafat.
Setelah
mempelajari aliran Skeptisisme, ia kemudian tidak menyetujui atau menyukainya,
karena di dalamnya terdapat pertentangan batiniah. Orang dapat meragukan
segalanya, tetapi orang tidak dapat meragukan bahwa ia ragu-ragu. Seseorang
yang ragu-ragu sebenarnya ia berpikir dan seseorang yang berpikir sesungguhnya
ia berada (eksis).
Menurut
pendapatnya, daya pemikiran manusia ada batasnya, tetapi pikiran manusia dapat
mencapai kebenaran dan kepastian yang tidak batasnya, yang bersifat kekal
abadi. Artinya, akal pikiran manusia dapat berhubungan dengan sesuatu kenyataan
yang lebih tinggi.
Akhirnya,
ajaran Augustinus berhasil menguasai 10 abad, dan mempengaruhi pemikiran Eropa.
Perlu diperhatiakan bahwa para pemikir Patristik itu sebagai pelopor pemikiran
Skolastik. Mengapa ajaran Augustinus sebagai akal dari Skolastik dapat
mendominasi hampir 10 abad ? Karena ajarannya lebih bersifat sebagai metode
dari pada suatu system sehingga ajarannya mampu meresap sampai masa Skolastik.
B. Masa
Skolastik
Istilah
Skolastik adalah kata sifat yang berasal dari kata school, yang berarti sekolah. Jadi, Skolastik berarti aliran atau
yang berkaitan dengan sekolah. Perktaan Skolastik merupakan corak khas dari
sejarah filsafat abad pertengahan.
Terdapat
beberapa pengertian dari corak khas skolastik, sebagai berikut.
a.
Filsafat
skolastik adalah filsafat yang mempunyai corak semata-mata agama. Skolastik ini
sebagai bagian dari kebudayaan abad pertengahan yang religious.
b.
Filsafat
skolastik adalah filsafat yang mengabdi pada teologi atau filsafat yang
rasional memecahkan persoalan-persoalan mengenai berpikir, sifat ada,
kejasmanian, kerohanian, baik buruk. Dari rumusan tersebut kemudian muncul
istilah skolastik yahudi, skolastik arab dan lain-lainnya.
c.
Filsafat
skolastik adalah suatu system filsafat yang termasuk jajaran pengetahuan alam
kodrat, akan dimasukkan ke dalam bentuk sintesis yang lebih tinggi antara
kepercayaan dan akal.
d.
Filsafat
skolastik adalah filsafat nasrani karena banyak dipengaruhi oleh ajaran gereja.
Filsafat skolastik ini dapat tumbuh dan berkembang karena beberapa
faktor berikut.
a. Faktor Religius
Faktor religius dapat mempengaruhi
corak pemikiran filsafatnya. Yang dimaksud dengan faktor religius adalah
keadaan lingkungan saat itu
berperikehidupan religius.Mereka beranggapan bahwa hidup didunia ini
suatu perjalanan ketanah suci Yerussalem, dunia ini bagaikan negeri asing dan
sebagai tepat pembuangan limbah air mata saja (Tempat Kesedihan). Sebagai dunia
yang menjadi tanah airnya adalah surga. Manusia tidak sampai ketanah airnya
(Surga) dengan kemampuannya sendiri, sehingga harus ditolong. Kerena manusia
itu menurut sifat kodratnya mempunyai cela atau kelemahan yang
dilakukan(Diwariskan) oleh Adam, mereka juga berkeyakinan bahwa Isa anak Tuhan
berperan sebagai pembebas menolongnya.
Maka, hanya dengan jalan pengampunan inilah manusia dapat tertolong agar dapat
mencapai tanah airnya (Surga). Anggapan dan keyakinan inilah yang dijadikan
dasar pemikiran filsafatnya.
b.
Faktor
Ilmu Pengetahuan
Pada saat itu telah banyak didirikan
lembaga-lembaga pengajaran yang diupayakan oleh biara-biara, gereja, ataupun
dari keluarga istana.
Kepustakaannya diambilkan dari pada
penulis Latin, Arab (Islam), dan Yunani.
Masa Skolastik terbagi menjadi tiga periode :
1.
Skolastik Awal,
berlangsung dari tahun 800-1200
2.
Skolastik
Puncak, berlangsung dari periode 1200-1300
3.
Skolastik Akhir,
berlangsung dari tahun 1300-1450
1. Skolastik
Awal
Sejak abd ke-5 hingga ke-8 M, pemikiran
filsafat patristik mulai merosot, terlebih lagi abad ke-6 dan ke-7 dikatakan
abad kaca. Hal ini disebabkan pada saat itu terjadi serangan terhadap Romawi
sehingga kerajaan Romawi beserta peradabannya ikut runtuh yang telah dibangun
selama berabad-abad.
Baru pada abad ke-8 M, kekuasaan berada
dibawah Karel Agung (742-841) dapat memberikan suasana ketenangan dalam bidam
politik, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan, termausk kehidupan manusia serta
pemikiran filsafat yang semuanya menampakkan mulai adanya kebangkitan.
Kebangkitan inilah yang merupakan kecemerlangan abad pertengahan, dimana arah
pemikirannya berbeda sekali dengan sebelumnnya.
Saat ini merupakan zaman baru bagi bangsa
Eropa. Hal ini ditandai dengan skolastik yang didalamnya banyak diupayakan
pengembangan ilmu pengetahuan disekolah-sekolah. Pada mulanya skolastik ini
timbul pertama kalinya di biara Italia Selatan dan akhirnya sampai berpengaruh
ke Jerman dan Belanda.
Kurikulum pengajarannya meliputi studi
duniawi atau artes liberals, meliputi tata bahasa, retorika, dialektika, (Seni
berdiskusi), Ilmu hitung, ilmu ukur, ilmu perbintangan, dan music.
Diantara tokoh-tokohnya adalah
Aquinas (735-805), Johannes Scotes Eriugena (815-870), Peter Lombard
(1100-1600),John Salisbury (1115-1180), Peter Abaelardus (1079-1180)
·
Peter
Abaelardus (1079-1180)
Ia dilahirkan di Le Pallet, Prancis.
Ia mempunyai kepribadian yang keras dan pandangannya sangat tajam sehingga
sering kali bertengkar dengan para ahli pikir dan penjabat gereja. Ia termasuk
orang Konseptualisme dan sarjana terkenal dalam sastra romatik, sekaligus
sebagai rasionalistik, artinya paranan akal dapat menunduhkan kekuatan iman.
Iman harus didahului akal. Yang harus dipercaya adalah apa yang telah disetujui
atau dapat diterima oleh akal.
Berbeda dengan Anselmus yang
mengatakan bahwa berpikir harus sejalan dengan iman, Abaelardus memberikan alas
an bahwa berpikir itu berbeda di luar iman (Di luar kepercayaan). Karena itu
berpikir merupakan sesuatu yang berdiri sendiri. Hal ini sesuai dengan metode
dialektika yang tanpa ragu-ragu ditunjukkan dalam teologi, yaitu bahwa teologi
hatus memberikan tempat bagi semua bukti-bukti. Dengan demikian, dalam teologi
itu iman hampir kehilangan tempat. Ia mencontohkan, seperti ajaran teoritis
juga berdasarkan pada bukti-bukti, termasuk, bukti dalam wahyu Tuhan.
2. Skolastik
Puncak
Masa ini merupakan kejayaan skolastik
yang berlanngsung dari tahun 1200-1300 dan masa ini juga disebut masa berbunga.
Masa itu ditandai dengan munculnya universitas-universitas dan ordo-ordo, yang
secara bersama-sama ikut menyelenggarakan atau memajukkan ilmu pengetahuan, di
samping itu juga peranan universitas sebagai sumber atau pusat ilmu pengetahuan
dan kebudayaan.
Berikut ini beberapa factor mengapa masa skolastik mencapai
puncaknya
a.
Adanya pengaruh
dari Aristoteles, Ibnu Rusyd,Ibnu Siina sejak abad ke-12 sampai abad ke-13
telah tumbuh menjadi ilmu pengetahuan yang luas.
b.
Tahun 1200 didirikan universitas Almamater di
Prancis. Universitas ini merupakan gabungan dari beberapa sekolah. Almamater
inilah sebagai awal (embrio) berdirinya Universitas di Paris, di Oxford, di
Mont Pellier, di Cambridge dan lain-lainnya.
c. Berdirinya
ordo-ordo. Ordo-ordo inilah yang muncul karena banyaknya perhatian orang
terhadap ilmu pengetahuan sehingga menimbulkan dorongan yang kuat untuk member
suasana yang semarak pada abad ke-13. Hal ini akan berpengaruh pada terhadap
kehidupan kerohanian dimana kebanyakan tokoh-tokohnya memegang peran dibidang
filsafat dan teologi, seperti Albertus de Grote, Thomas Aquinas, Binaventura,
J.D. Scotus, William Ocham.
Upaya Kristenisasi Ajaran
Aristoteles
Pada mulanya hanya sebagian ahli
pikir yang membawa dan merumuskan ajaran Aristoteles, akan tetapi upaya ini
mendapatkan perlawanan dari Augustinus. Hal ini disebabkan adanya suatu
anggapan bahwa ajaran Aristoteles yang mulai dikenal pada abad ke-12 telah
diolah dan tercemar oleh ahli pikir Arab (Islam). Hal ini dianggap sangat
membahayakan ajaran Kristen. Keadaan yang demikian ini bertolak belakang bahwa
ajaran Aristoteles masih diajarkan di fakultas-fakultas, bahkan dianggapnya
sebagai pelajaran yang penting dan harus dipelajari.
Untuk menghindari adanya pencemaran
tersebut diatas (dari ahli pikir Arab atau Islam), Albertus Magnus dan Thomas
Aquinas sengaja menghilangkan unsure-unsur atau selipan dari ibnu Rusyd, dengan
menerjemahkan langsung dari bahasa Latinnya. Juga, bagian-bagian ajara
Aristoteles yang bertentangan dengan ajaran Kristen diganti dengan teori-teori
baru yang bersumber pada ajaran Aristoteles dan diselaraskan dengan ajaran
Kristen. Langkah terakhir, dari ajaran Aristoteles telah diselaraskan dengan
ajaran ilmiah (Suatu sintesis antara kepercayaan dan akal).
Upaya
Thomas Aquinas ini sangat berhasil dengan terbitbya sebuah buku Summa Theologiae dan sekaligus merupakan
bukti bahwa ajaran Aristoteles telah mendapatkan kemenangan dan sangat
mempengaruhi seluruh perkembangan skolastik.
·
Albertus
Magnus
Disamping sebagai biarawan, Albertus
Magnus juga dikenal sebagai cendakiawan abad pertengahan. Ia lahir dengan nama
Albert Von Bollstandt yang juga dikenal sebagai “doctor universalis” dan
“doctor magnus”, kemudian bernama Albertus Magnus (Albert thr Great). Ia
mempunyai kepandaian luar biasa. Di universitas Padua ia belajar artes
liberals, ilmu-ilmu pengetahuan alam, kedokteran, filsafat Aristoteles, belajar
teologi di Bulogna, dan masuk ordo Dominican tahun 1223, kemudian masuk ke Koln
menjadi dosen filsafat dan teologi.
Terakhir ia diangkat sebagai uskup
agung. Pola pemikirannya meniru Ibnu Rusyd dalam menulis tentang Aristoteles.
Dalam bidang ilmu pengetahuan, ia mengadakan penelitian dalam ilmu biologi dan
ilmu kimia.
·
Thomas
Aquinas (1225-1274)
Nama sebenarnya adalah Santo Thomas
Aquinas, yang artinya Thomas yang suci dari Aquinas. Disamping sebagai ahli
pikir, ia juga seorang dokter gereja bangsa Italia. Ia lahir di Rocca Secca,
Napoli, Italia. Ia merupakan tokoh terbesar Skolastisisme, salah seorang suci
gereja katolik Romawi dan pendiri aliran yang dinyatakan menjadi filsafat resmi
gereja Katolik. Tahun 1245 belajar pada Albertus Magnus. Pada tahun 1250 ia
menjadi guru besar dalam ilmu agama di Prancis dan tahun 1259 menjadi guru
besar dan penasihat istana Paus.
Karya Thomas Aquinas telah menandai
taraf yang tinggi dari aliran Skolastisisme pada abad pertengahan.Ia berusaha
untuk membuktikan bahwa iman Kristen secara penuh dapa dibenarkan dengan
pemikiran logis. Ia telah menerima pemikiran Aristoteles sebagai otoritas
tertinggi tentang pemikirannya yang logis.
Menurut pendapatnya, semua kebenaran
asalnya dari Tuhan. Kebenaran diungkapkan dengan jalan berbeda-beda, sedangkan
iman berjalan di luar jangkauan pemikirannya. Ia mengimbau agar orang-orang
untuk mengetahui hokum alamiah (Pengetahuan) yang terungkap dalam kepercayaan.
Tidak ada kontradiksi antara pemikiran dan iman. Semua kebenaran mulai timbul secara
kebutuhan walaupun iman diungkapkan lewat beberapa kebenaran yang berbeda
diluar kekuatan pikir.
Thomas sendiri menyadari bahwa tidak
dapat menghilangkan unsur-unsur Aristoteles, tetapi sistem pemikirannya
berbeda. Masuknya unsure Aristoteles ini didorong oleh kebijakan pimpinan
gereja Paus Urbanus V (1366) yang memberikan angin seger untuk kemajuan filsafat.
Kemudian Thomas mengadakan langkah-langkah sebagai berikut.
1. Thomas menyuruh teman sealiran Willemvan
Moerbeke untuk membuat terjemahan baru yang berlangsung dari Yunani. Hal ini
untuk melawan Aristotelianisme yang berorientasi pada Ibnu Rusyd, dan upaya ini
mendapat dukungan dari Siger van Brabant.
2.
Pengkristenan ajaran Aristoteles dari dalam. Bagian-bagian yang bertentangan
dengan apa yang dianggap Kristen bertentangan sebagai firman Aristoteles,
tetapi diupayakan selaras dengan ajaran Kristen.
3.Ajaran
Aristoteles yang telah dikristenkan dipakai untuk membuat sintesis yang lebih
bercorak ilmiah (Sintesis deduktif antara iman dan akal). Sistem barunya itu
untuk menyusun Summa Teologiae.
3. Skolastik
Akhir
Masa ini ditandai dengan adanya rasa jemu terhadap
segala macam pemikiran filsafat yang menjadi kiblatnya sehingga memperlihatkan
stagnasi (kemandegan). Diantara tokoh-tokohnya adalah William Ockham
(1285-1349), Nicolas Cusasus (1401-1464).
·
William
Ockham (1285-1349)
Ia merupakan ahli pikir inggri yang beraliran
skolastik. Karena terlibat dalam pertengkaran umum dengan Paus John XXII, ia
dipenjara di Avignon, tetapi ia dapat melarikan diri dan mencari perlindungan
pada Kaisar Louis IV. Ia menolak ajaran Thomas dan mendalikan bahwa kenyataan
itu hanya terdapat pada benda-benda satu demi satu, dan hal-hal yang umum itu
hanya tanda-tanda abstrak.
Menurut pendapatnya, pikiran manusia hanya
dapat mengetahui barang-barang atau kejadian-kejadian individual. Konsep-konsep
atau kesimpula-kesimpulan umum tentang alam hanya merupakan abstrak buatan
tanpa kenyataan. Pemikiran yang demikian ini, dapat dilalui hanya lewat
intuisi, bukan lewat logika. Di samping itu, ia membantah anggapan skolastik
bahwa logika dapat membuktikan doktrin teologis. Hal ini akan membawa kesulitan
dirinya yang pada waktu itu sebagai penguasanya Paus John XXII.
·
Nicolas
Cusasus (1401-1464)
Ia sebagai tokoh pemikir yang berbeda
paling akhir masa skolastik. Menurut pendapatnya, terdapat tiga cara untuk
mengenal, yaitu lewat indra, akal, dan intuisi. Dengan indra kita akan
mendapatkan pengetahuan tentang benda-benda berjasad, yang sifatnya tidak
sempurna. Dengan akal kita akan mendapatkan bentuk-bentuk pengertian yang
abstrak berdasarkan pada sajian dan tangkapan indra. Dengan intuisi kita akan
mendapatkan pengetahuan yang lebih tinggi. Hanya dengan intuisi inilah kita
akan dapat mempersatukan apa yang oleh akal tidak dapat dipersatukan. Manusia
seharusnya menyadari akan keterbatasan akan, sehingga banyak hal yang
seharusnya dapat diketahui. Karena keterbatasan akal tersebut, hanya sedikit
saja yang dapat diketahui oleh akal. Dengan intuisi inilah diharapkan akal
sampai pada kenyataan, yaitu suatu tempat dimana segala sesuatu bentuknya
menjadi larut, yaitu Tuhan.
Pemikiran Nicolaus ini sebagai upaya
mempersatukan seluruh pemikiran abad pertengahan, yang dibuat ke suatu sintesis
yang lebih luas. Sintesis ini mengarah ke masa depan, dari pemikirannya ini
tersirat suatu pemikiran para humanis.
C. Masa
Peralihan
Setelah
abad pertengahan berakhir sampai pada masa peralihan yang diisi dengan gerakan
kerohanian yang bersifat pembaharuan. Zaman peralihan ini merupakan embiro masa
modern. Masa perelihan ini ditandai dengan munculnya renaissance, humanism, dan
reformasi yang berlangsung antara abd ke-14 hingga ke-16.
Renaissance
Renaissance
atau kelahiran kembali di Eropa ini merupakn suatu gelombang kepercayaan dan
pemikiran yang dimulai di Italia, kemudian di Prancis, Spanyol, dan selanjutnya
hingga menyebar keseluruh Eropa. Diantara tokoh-tokohnya adalah Leonardo da
Vinci, Michelangelo, Machiavelli, dan Giordano Bruno.
Humanisme
Humanisme
pada mulanya dipakai sebagai suatu pendirian dikalangan ahli pikir Renaissance
yang mencurahkan perhatiannya terhadap pengajaran kesusastraan Yunani dan
Romawi, serta peri kemanusian. Kemudian, Humanisme berubah fungsinya menjadi
gerakan untuk kembali melepaskan ikatan dari gereja dan berusaha menemukan
kembali sastra Yunani atau Romawi. Diantara para tokonya adalah Boccaccio,
Petrarcus, Lorenco Vallia, Erasmus, dan Thomas Morre.
Reformasi
Rovormasi
merupakan revolusi keagamaan di Eropa Barat pada abad ke-16. Revolusi tersebut
dimulai dari gerakan terhadap perbaikan keadaan gereja Katolik. Kemudian
berkembang menjadi asas-asas Protestantisme. Para tokohnya antara lain Jean
Calvin dan Martin Luther
Akhirannya dalam filsafat Renaissance salah
satu unsur pokoknya adalah manusia. Suatu pemikiran yang sejajar dengan
Renaissance. Pemikiran yang ingin menempatkan manusia pada tempat yang sentral
dalam pandangan kehidupan.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1.
Sejarah
Munculnya Filsafat Abad Pertengahan
Filsafat Barat abad Pertengahan (476-1492)
juga dapat dikatakan sebagai “Abad Gelap”. Pendapat ini didasarkan pada
pendekatan sejarah gereja. Memang pada saat itu tindakan gereja sangat
membelenggu kehidupan manusia sehingga manusia tidak lagi memiliki kebebasan
untuk mengembagkan potensi yang terdapat dalam dirinya. Para ahli pikir pada
saat itupun tidak memiliki kebebasan berpikir. Apabila terdapat
pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan ajaran gereja, orang yang
mengemukakannya akan mendapatkan hukuman berat. Pihak gereja melarang
diadakannya penyelidikan-penyelidikan berdasarkan rasio terhadap agama. Karena
itu, kajian terhadap agama atau theologi yang tidak berdasarkan ketentuan
gereja akan mendapatkan larangan yang ketat. Yang berhak mengadakan
penyelidikan terhadap agama adalah pihak gereja. Walaupun demikian, Ada juga
yang melanggar larangan tersebut dan mereka dianggap orang murtad dan kemudian
diadakan pengejaran (Inkuisisi). Pengejaran terhadap orang-orang murtad ini
mencapai puncaknya pada saat Paus Innocentius III di akhir abad XII, dan paling
berhasil dalam pengejaran orang-orang murtad ini di Spanyol.
Ciri-ciri
pemikiran filsafat Barat abad pertengahan adalah :
a.
Cara
berfilsafatnya dipimpin oleh gereja
b.
Berfilsafat di
dalam lingkungan ajaran aristoteles
c.
Berfilsafat
dengan pertolongan Augustinus dan lain-lain
2. Masa
Patristik
Istilah patristik berasal dari kata
latin pater atau bapak, yang artinya
para pemimpin gereja. Para pemimpin gereja ini dipilih dari golongan atas atau
golongan ahli pikir. Dari golongan ahli pikir inilah menimbulkan sikap yang
beragam pemikirannya. Mereka ada yang menolak filsafat yunani dan ada yang
menerimanya.
3. Masa
Skolastik
Istilah
Skolastik adalah kata sifat yang berasal dari kata school, yang berarti sekolah. Jadi, Skolastik berarti aliran atau
yang berkaitan dengan sekolah. Perktaan Skolastik merupakan corak khas dari
sejarah filsafat abad pertengahan.
Terdapat
beberapa pengertian dari corak khas skolastik, sebagai berikut.
a.
Filsafat
skolastik adalah filsafat yang mempunyai corak semata-mata agama. Skolastik ini
sebagai bagian dari kebudayaan abad pertengahan yang religious.
b.
Filsafat
skolastik adalah filsafat yang mengabdi pada teologi atau filsafat yang
rasional memecahkan persoalan-persoalan mengenai berpikir, sifat ada,
kejasmanian, kerohanian, baik buruk. Dari rumusan tersebut kemudian muncul
istilah skolastik yahudi, skolastik arab dan lain-lainnya.
c.
Filsafat
skolastik adalah suatu sistem filsafat yang termasuk jajaran pengetahuan alam
kodrat, akan dimasukkan ke dalam bentuk sintesis yang lebih tinggi antara
kepercayaan dan akal.
d. Filsafat
skolastik adalah filsafat nasrani karena banyak dipengaruhi oleh ajaran gereja.
Filsafat skolastik ini dapat tumbuh
dan berkembang karena beberapa faktor seperti Faktor Religius dan Faktor Ilmu Pengetahuan.
4. Masa
Peralihan
Setelah abad pertengahan berakhir sampai
pada masa peralihan yang diisi dengan gerakan kerohanian yang bersifat
pembaharuan. Zaman peralihan ini merupakan embiro masa modern. Masa perelihan
ini ditandai dengan munculnya renaissance, humanisme, dan reformasi yang
berlangsung antara abd ke-14 hingga ke-16.
5. Tokoh-tokoh
filsafat pada abad pertengahan
a.
Tokoh-tokoh pada
masa Patristik
·
Justinus Martir
·
Klemens
·
Tertulianus
·
Augustinus
b.
Tokoh-tokoh pada
masa Skolastik
·
Peter Abaelardus
·
Albertus Magnus
·
Thomas Aquinas
·
William Ockham
·
Nicolas Cusasus
B. Saran
Dalam makalah ini
penyusun menyadari masih banyak kekurangan yang terdapat didalamnya, baik dari
segi penulisan, susunan kata,bahan referensi, dan lainnya. Oleh karena itu,
penulis mengharapkan masukan dari pihak pembaca sebagai pengetahuan untuk
mewujudkan perubahan yang lebih baik lagi di masa yang akan datang.Demikianlah
makalah yang sederhana ini kami susun semoga dapat bermanfaat bagi penyusun
maupun bagi para pembaca. Sekian dan terima kasih.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Achmadi
Asmoro. 2013. Filsafat Umum .Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Komentar
Posting Komentar