PERENCANAAN
A.
KONSEPSI
DASAR
Perencanaan adalah konsep dasar
yang digunakan untuk memilih tujuan dan menentukan cakupan pencapaiannya.
Merencanakan berarti mengupayakan penggunaan sumber daya manusia (human
resources), sumber daya alam (natural resources), dan sumber daya
lainnya (other recources) untuk mencapai tujuan.
Suatu perencanaan adalah suatu
aktivita sintegratif yang berusaha memaksimumkan efektivitas seluruhnya dari
organisasi sebagai suatu system, sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Berdasarkan definisi tersebut, peencanaan minimum memiliki karakteristik
berikut.
1.
Perencanaan
tersebut harus menyangkut masa yang akan datang.
2.
Terdapat
suatu elemen identifikasi pribadi atau organisasi, yaitu serangkaian tindakan
di masa yang akan datang dan akan di ambil oleh perencaan.
3.
Masa
yang akan datang., tindakan dan identifikasi pribadi, serta organisasi
merupakan unsure yang amat penting dalam setiap perencanaan.
Batas lain
tentang perencanaa adalah memilih dan menghubungkan fakta serta membuat dan
menggunakan dugaan mengenai masa yang akan datang. Menggambarkan dan merumuskan
aktivitas yang diusulkan dan dianggap perlu untuk mencapai hasil yang
diinginkan (Terry, 1975: 140-142). Maksudnya dalam perencanaan , seseorang
manajer menggunakan fakta atau keterangan, premis, dan batasan yang benar. Atas
dasar itu, ia menggambarkan dan merumuskan tentang hal-hal yang merupakan
aktivitas yang akan dioprasikan dan apa yang merupakan bantuan untuk mencapai
hasil yang diinginkan.
Berbeda dengan
batasan diatas, Hayashi (1976:2) mendefinisikan perencanaan sebagai suatu
proses yang bertahap dari tindakan yang terorganisasi untuk menjembatani
perbedaan antara kondisi yang ada dan aspirasi organisasi. Sejalan dengan
definisi ini maka proses perencanaan memiliki karakteristik dsasar tertentu.
Karakteristik ini dapat dirumuskan dengan mengingat berbagai matra penting dari
aktivitas dasar proses perencanaan. Unsur-unsur aktivitas atau tindakan dasar
tersebut, sekurang-kurangnya dalam merumuskan suatu tujuan mencakup
pengembangan program untuk mencapai sasaran, pelaksanaan program, dan
perorganisasian proses perencanaan iti sendiri.
Matra yang
menentukan dalam penetapan dan penerimaan tujuan adalah penilaian atas dasar
kemungkinan tercapainya sasaran itu sendiri. Karena perencanaan atas
kemungkinan tercapainya sasaran dalam satu desain waktu tidak begitu jelas maka
penilaian kemungkinan tercapainya sasaran merupakan cirri dalam proses
perencanaan.
Program disusun
untuk mencapai sasaran. Kemungkinan tercapainya sasaran ditentukan, baik oleh
tiiap tugas dalam program maupun oleh tugas yang telah ditentukan. Dengan
ditentukannya masing-masing tugas maka matra yang menentukan dorongan untuk
tetap memelihara kesetiaan pada asas-asas dalam tugas yang saling berhubungan,
baik antara tugas yang berhubungan dengan penetapan geografis, fungsi
manajemen, tingkat hierarki, maupun yang berhubungan dengan waktu.
Matra yang
menentukan pelaksanaan adalah perlunya legitimasi perencanaan. Legitimasi dapat
diukur dari jangkauan pelaksanaan perencanaan memberikan landasan pengendalian.
Jika rencana tidak sah, pelaksanaan rencana tidak dapat dikendalikan. Ini
berarti, sebagian atau seluruh proses manajemen untuk mengarahkan, memantau,
menilai, dan mengoreksi dipisahkan dari rencana.
Terakhir, matra
yang menentukan organisasi proses perencanaan adalah tingkat merasuknya tiga
cirri pokok tersebut. Karakteristik tersebut menuntut agar organisasi
perencanaan merasuki struktur organisasi. Hal ini menurut Hayashi merupakan
satu-satunya jalan untuk menilai sasaran dalam desain membuatan rencana
mendesak. Dengan demikian, program diharapkan selalu konsisten salam segi
cakupan, fungsi, hierarki, dan waktu, serta dapat mendorong pelaksanaan rencana
dibawah pengendalian pimpinan.
Lewis dalam
jhingan (1996:653-654) mengemukakan adanya empat pengertian perencanaan yang
dipakai di dalam kepustakaan ekonomi, sebagai berikut.
1.
Banyal
sekali kepustakaan yang hanya menghubungkan istilah perencanaan dengan
penentuan letak geografis, factor, bangunan, tempat tinggal, bioskop, dan
semacamnya. Kadangkali ini disebut perencanaan kotda dan negara atau seringkali
disebut perencanaan saja.
2.
Perencanaan
hanya berarti memutuskan uang apa yang digunakan pemerintahan di masa depan,
seandainya memiliki uang yang dapat dibelanjakan.
3.
Ekonomi
berencana adalah ekonomi ketika masing-masing
satuan produksi (atau perusahaan) hanya memakai sumber daya manusia, bahan dan
peralatan yang dialokasikan kesana melalui kuota yang menjual produknya
semata-mata kepada orang atau perusahaan yang ditunjukkan oleh pemerintah
pusat.
4.
Perencanaan
berarti setiap penentuan sasaran produksi oleh pemerintah, apakah perusahaan
Negara maupun perusahaan swasta.
5.
Di
sini sasaran ditetapkan untuk perekonomian secara keseluruhan. Maksudnya untuk
mengalokasikan semua buruh, devisa, bahan mentah, dan sumber daya lain Negara
ke berbagai bidang perekonomian.
6.
Kata
perencanaan kadang-kadang dipakai untuk menggambarkan sarana yang digunakan pemerintah
untuk memaksakan sasaran yang ditetapkan sebelumnya kepada perusahaan swasta.
Perencanaan yang
efektif didasarkan atas fakat, bukan didasarkan atas intuisi. Fakta yang tepat
dikumpulkan dan dianalisis, aktivitas yang diusulkan didasarkan atas kondisi
yang diberikan oleh fakta.
Pada esensinya
perencanaan berkenaan dengan akal, perencanaan adalah pekerjaan mental. Fakta
yang penting bagi kondisi yang dipertimbangkan dihubungkan dengan pengalaman
serta pengetahuan manajer. Pemikiran yang reflektif, khayalan, dan perkiraan
sangat berguna dalam perencanaan. Dalam pikiran perencanaan harus menggambarkan
pola-pola aktivitas yang diusulkan dengan jelas. Ia tentu berhubungan dengan
hal-hal yang tidak dapat dirasakan dan menggunakan pemikirannya yang kreatif
dalam rencana yang pasti.
Batasan di atas
juga mengandung maksud bahwa perencanaan berhubungan dengan aktivitas untuk
masa yang akan datang. Perencanaan bertalian dengan hal-hal yang akan terjadi
dari keputudsan sekarang. Aktivitas hari ini adalah pekerjaan untuk hari
selanjutnya yang dipikirkan oleh manajer pada hari yang lalu. Perencanaan
berhubungan dengan tindakan yang diusulkan. Melalui perencanaan, anggota
organisasi berusaha melihat ke depan, mengetahui lebih dahulu hal-hal yang mungkin
terjadi, mempersiapkan hal-hal yang tidak tentu menggambarkan aktivitas, dan
memberikan arahan kronologis untuk pencapaian tujuan.
Sebelum melakukan aktivitas mengorganisasi,
mengarahkan, memotivasi, dan mengendalikan terlebih dahulu manajer harus
membuat rencana yang memberikan arah dan tujuan kepada organisasi, menentukan
apa (what) yang akan dikerjakan, kapan (when) akan dikerjakan, siapa (who) yang
akan mengerjakan, di mana (where) akan dikerjakan, dan bagaimana ( how)
mengerjakannya.
Manajer semua
hierarki organisasi dituntut untuk mengoprasikan fungsinya. Meningkatnya
seseorang manajer pada hierarki organisasi menuntut penggunaan sebagian
besaralokasi waktunya relative lebih banyak untuk penerapan fungsi perencanaan
dari pada fungsi pelaksanaan lainnya. Pada manajer puncak terdapat suatu
gradasi alokasi waktu yang dikeluarkan untuk aktivitas perencanaan bagi
berbagai macam periode waktu di masa yang akan datang. Manajer puncak tidak
hanya harus mencurahkan sebagian besar waktunya untuk pelaksanaan fungsi
perencanaan, tetapi ia harus menyadari kebutuhan akan perencanaan yang akan
datang,
Dalam pelaksanaan
fungsi pelaksanaan, manajer puncak memiliki fungsi:
1.
Menentukan
peran yang dihadapkan dari organisasi di masa yang akan datang;
2.
Menghubungkan
organisasi dengan berbagai macam system lingkungannya;
3.
Mengevaluasi
dan memperkirakan kebutuhan apa saja yang dapat dipenuhi oleh organisasi.
Manajer puncak umumnya mencurahkan hampir
semua waktu perencanaan jauh ke masa depan dan pada strategi organisasi secara
keseluruhan. Manajer pada hierarki lebih rendah merencanakan terutama untuk
subunitnya sendiridan untuk jangka waktu yang lebih pendek.
Fungsi perencanaan memiliki hubungan yang
sangat erat dengan pengambilan keputusan. Suatu keputusan pada dasarnya adalah
suatu resolusi dan kemungkinan alternative. Suatu keputusan bukanlah suatu
rencana apabila di dalamnya tidak menyangkut baik tindakan maupun masa yang
akan datang. Keputusan sangat diperlukan pada setiap hierarki proses
perencanaan. Oleh karena itu, sulitlah kiranya untuk memisahkan antara
pengambilan keputusan dengan perencanaan. Pengambilan keputusan merupakan aspek
penting perencanaan, yaitu proses pengembangan dan pemuliahn arah untuk
memecahkan permasalahan tertentu. Keputusan harus diambil pada setiap titik
dalam proses perencanaan.
Komentar
Posting Komentar